Rabu, 2008 Mei 21


Berhentilah melangkah wahai ikhwan...Karna kakimu tak lagi mampu tuk melangkah....
Diamlah wahai ikhwan... karna mulutmu kini tak mampu lagi tuk tersenyum...
Hanya telingaku nanti yang mampu mendengar suara-suara yang terdengar sayup...
Tapi percuma wahai ikhwan karna kau takan lagi sanggup tuk menjawabnya...


Andai masih ada yang masih mau menerima senyumku....!
Andai masih ada yang masih mau mendengarkan ceritaku...!
Andai masih ada yang masih mau menghapus air mataku...!
Dan andai masih ada yang yakin kepadaku...!


Duhai ikhwan.......
Itu hanyalah andai-andaimu....

Kamis, 2008 Mei 08

SIWAK Keajaiban dalam Sunnah Nabi


Sejarah Penggunaan Siwak (Salvadora persica)


Penggunaan alat-alat kebersihan mulut telah dimulai semenjak berabadabad
lalu. Manusia terdahulu menggunakan alat-alat kebersihan yang
bermacam-macam seiring dengan perkembangan sosial, teknologi dan budaya.
Beraneka ragam peralatan sederhana dipergunakan untuk membersihkan mulut
mereka dari sisa-sisa makanan, mulai dari tusuk gigi, batang kayu, ranting
pohon, kain, bulu burung, tulang hewan hingga duri landak. Diantara peralatan
tradisional yang mereka gunakan dalam membersihkan mulut dan gigi adalah
kayu siwak atau chewing stick. Kayu ini walaupun tradisional, merupakan
langkah pertama transisi/peralihan kepada sikat gigi modern dan merupakan
alat pembersih mulut terbaik hingga saat ini.


Miswak (Chewing Stick) telah digunakan oleh orang Babilonia semenjak
7000 tahun yang lalu, yang mana kemudian digunakan pula di zaman kerajaan
Yunani dan Romawi, oleh orang-orang Yahudi, Mesir dan masyarakat kerajaan
Islam. Siwak memiliki nama-nama lain di setiap komunitas, seperti misalnya di
Timur Tengah disebut dengan miswak, siwak atau arak, di Tanzania disebut
miswak, dan di Pakistan dan India disebut dengan datan atau miswak.
Penggunaan chewing stick (kayu kunyah) berasal dari tanaman yang berbedabeda
pada setiap negeri. Di Timur Tengah, sumber utama yang sering
digunakan adalah pohon Arak (Salvadora persica), di Afrika Barat yang
digunakan adalah pohon limun (Citrus aurantifolia) dan pohon jeruk (Citrus
sinesis). Akar tanaman Senna (Cassiva vinea) digunakan oleh orang Amerika
berkulit hitam, Laburnum Afrika (Cassia sieberianba) digunakan di Sierre Leone
serta Neem (Azadirachta indica) digunakan secara meluas di benua India.
Meskipun siwak sebelumnya telah digunakan dalam berbagai macam
kultur dan budaya di seluruh dunia, namun pengaruh penyebaran agama Islam
dan penerapannya untuk membersihkan gigi yang paling berpengaruh. Istilah
siwak sendiri pada kenyatannya telah umum dipakai selama masa kenabian
Nabi Muhammad yang memulai misinya sekitar 543 M. Nabi Muhammad
Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : “Seandainya tidak memberatkan
ummatku niscaya akan kuperintahkan mereka untuk bersiwak setiap akan
sholat (dalam riwayat lain : setiap akan berwudhu’).” Nabi memandang
kesehatan dan kebersihan mulut adalah penting, sehingga beliau senantiasa
menganjurkan pada isterinya untuk selalu menyiapkan siwak untuknya hingga
akhir hayatnya.

Siwak terus digunakan hampir di seluruh bagian Timur Tengah, Pakistan,
Nepal, India, Afrika dan Malaysia, khususnya di daerah pedalaman. Sebagian
besar mereka menggunakannya karena faktor religi, budaya dan sosial. Ummat
Islam di Timur Tengah dan sekitarnya menggunakan siwak minimal 5 kali sehari
disamping juga mereka menggunakan sikat gigi biasa. Penelitian yang dilakukan
oleh Erwin dan Lewis (1989) menyatakan bahwa pengguna siwak memiliki
relativitas yang rendah dijangkiti kerusakan dan penyakit gigi meskipun mereka
mengkonsumsi bahan makanan yang kaya akan karbohidrat.


Morfologi dan Habitat Tanaman Siwak
Siwak atau Miswak, merupakan bagian dari batang, akar atau ranting
tumbuhan Salvadora persica yang kebanyakan tumbuh di daerah Timur Tengah,
Asia dan Afrika. Siwak berbentuk batang yang diambil dari akar dan ranting
tanaman arak (Salvadora persica) yang berdiameter mulai dari 0,1 cm sampai 5
cm. Pohon arak adalah pohon yang kecil seperti belukar dengan batang yang
bercabang-cabang, berdiameter lebih dari 1 kaki. Jika kulitnya dikelupas
berwarna agak keputihan dan memiliki banyak juntaian serat. Akarnya
berwarna cokelat dan bagian dalamnya berwarna putih. Aromanya seperti
seledri dan rasanya agak pedas.


Siwak berfungsi mengikis dan membersihkan bagian dalam mulut. Kata
siwak sendiri berasal dari bahasa arab ‘yudlik’ yang artinya adalah memijat
(massage). Siwak lebih dari sekedar sikat gigi biasa, karena selain memiliki
serat batang yang elastis dan tidak merusak gigi walaupun di bawah tekanan
yang keras, siwak juga memiliki kandungan alami antimikrobial dan antidecay
system (sistem antipembusuk). Batang siwak yang berdiameter kecil, memiliki
kemampuan fleksibilitas yang tinggi untuk menekuk ke daerah mulut secara
tepat dan dapat mengikis plak pada gigi. Siwak juga aman dan sehat bagi
perkembangan gusi.


Kandungan Kimia Batang Kayu Siwak
Al-Lafi dan Ababneh (1995) melakukan penelitian terhadap kayu siwak
dan melaporkan bahwa siwak mengandung mineral-mineral alami yang dapat
membunuh dan menghambat pertumbuhan bakteri, mengikis plaque, mencegah
gigi berlubang serta memelihara gusi. Siwak memiliki kandungan kimiawi yang
bermanfaat, meliputi :

- Antibacterial Acids, seperti astringents, abrasive dan detergent yang  berfungsi untuk membunuh bakteri, mencegah infeksi, menghentikanpendarahan pada gusi. Penggunaan kayu siwak yang segar pertama kali, akan terasa agak pedas dan sedikit membakar, karena terdapat kandungan serupa mustard yang merupakan substansi antibacterial acid tsbt

- Kandungan kimiawi seperti Klorida, Pottasium, Sodium Bicarbonate,
Fluorida, Silika, Sulfur, Vitamin C, Trimetilamin, Salvadorin, Tannin dan
beberapa mineral lainnya yang berfungsi untuk membersihkan gigi,
memutihkan dan menyehatkan gigi dan gusi. Bahan-bahan ini sering
diekstrak sebagai bahan penyusun pasta gigi.

- Minyak aroma alami yang memiliki rasa dan bau yang segar, yang dapat
menyegarkan mulut dan menghilangkan bau tidak sedap.

- Enzim yang mencegah pembentukan plak yang merupakan penyebab radang
gusi dan penyebab utama tanggalnya gigi secara prematur.

- Anti Decay Agent (Zat anti pembusukan) dan Antigermal System, yang
bertindak seperti Penicilin menurunkan jumlah bakteri di mulut dan
mencegah terjadinya proses pembusukan. Siwak juga turut merangsang
produksi saliva, dimana saliva sendiri merupakan organik mulut yang
melindungi dan membersihkan mulut.


Menurut laporan Lewis (1982), penelitian kimiawi terhadap tanaman ini
telah dilakukan semenjak abad ke-19, dan ditemukan sejumlah besar klorida,
fluor, trimetilamin dan resin. Kemudian dari hasil penelitian Farooqi dan
Srivastava (1990) ditemukan silika, sulfur dan vitamin C. Kandungan kimia
tersebut sangat bermanfaat bagi kesehatan gigi dan mulut dimana trimetilamin
dan vitamin C membantu penyembuhan dan perbaikan jaringan gusi. Klorida
bermanfaat untuk menghilangkan noda pada gigi, sedangkan silika dapat
bereaksi sebagai penggosok. Kemudian keberadaan sulfur dikenal dengan rasa
hangat dan baunya yang khas, adapun fluorida berguna bagi kesehatan gigi
sebagai pencegah terjadinya karies dengan memperkuat lapisan email dan
mengurangi larutnya terhadap asam yang dihasilkan oleh bakteri.


Siwak sebagai zat antibakterial
El-Mostehy dkk (1998) melaporkan bahwa tanaman siwak mengandung
zat-zat antibakterial. Darout et al. (2000) Melaporkan bahwa antimikrobial dan
efek pembersih pada miswak telah ditunjukkan oleh variasi kandungan kimiawi
yang dapat terdeteksi pada ekstraknya. Efek ini dipercaya berhubungan dengan
tingginya kandungan Sodium Klorida dan Pottasium Klorida seperti salvadourea
dan salvadorine, saponin, tannin, vitamin C, silika dan resin, juga cyanogenic
glycoside dan benzylsothio-cyanate. Hal ini dilaporkan bahwa komponen
anionik alami terdapat pada spesies tanaman ini yang mengandung agen
antimikrobial yang melawan beberapa bakteri. Nitrat (NO3
-) dilaporkan
mempengaruhi transportasi aktif porline pada Escherichia coli seperti juga
pada aldosa dari E. coli dan Streptococcus faecalis. Nitrat juga mempengaruhi
transport aktif oksidasi fosforilasi dan pengambilan oksigen oleh Pseudomonas
aeruginosa dan Stapyhylococcus aureus sehingga terhambat.
Menurut hasil penelitian Gazi et al. (1987) ekstrak kasar batang kayu
siwak pada pasta gigi yang dijadikan cairan kumur, dikaji sifat-sifat antiplaknya
dan efeknya terhadap komposisi bakteri yang menyusun plak dan menyebabkan
penurunan bakteri gram negatif batang.


Penyusun (2005) di dalam skripsi yang berjudul “Pengaruh Ekstrak Serbuk
Kayu Siwak (Salvadora persica) Terhadap Pertumbuhan Bakteri Streptococcus
mutans Dan Staphylococcus aureus Dengan Metode Difusi Lempeng Agar”
menemukan bahwa ekstrak serbuk kayu siwak bersifat antibakterial sedang
terhadap bakteri S. mutans dan S. aureus.

Siwak sebagai “oral cleaner device” (alat pembersih mulut)
Siwak sangat efektif sebagai alat pembersih mulut. Almas (2002)
meneliti perbandingan pengaruh antara ekstrak siwak dengan Chlorhexidine
Gluconate (CHX) yang sering digunakan sebagai cairan kumur (mouthwash) dan
zat anti plak pada dentin manusia dengan SEM (Scanning Electron Microscopy).
Almas melaporkan bahwa 50% ekstrak siwak dan CHX 0,2% memiliki efek yang
sama pada dentin manusia, namun ekstrak siwak lebih banyak menghilangkan
lapisan noda-noda (Smear layer) pada dentin.
Sebuah penelitian tentang Periodontal Treatment (Perawatan gigi secara
berkala) dengan mengambil sampel terhadap 480 orang dewasa berusia 35-65
tahun di kota Makkah dan Jeddah oleh para peneliti dari King Abdul Aziz
University Jeddah, menunjukkan bahwa Periodontal Treatment untuk
masyarakat Makkah dan Jeddah adalah lebih rendah daripada treatment yang
harus diberikan kepada masyarakat di negara lain, hal ini mengindikasikan
rendahnya kebutuhan masyarakat Makkah dan Jeddah terhadap Periodontal
Treatment.


Penelitian lain dengan menjadikan serbuk (powder) siwak sebagai bahan
tambahan pada pasta gigi dibandingkan dengan penggunaan pasta gigi tanpa
campuran serbuk siwak menunjukkan bahwa prosentase hasil terbaik bagi
kesehatan gigi secara sempurna adalah dengan menggunakan pasta gigi dengan
butiran-butiran serbuk siwak, karena butiran-butiran serbuk siwak tersebut
mampu menjangkau sela-sela gigi secara sempurna dan mengeluarkan sisa-sisa
makanan yang masih bersarang pada sela-sela gigi. Hal ini yang mendorong
perusahaan-perusahaan pasta gigi di dunia menyertakan serbuk siwak ke dalam
produk pasta gigi mereka. WHO (World Health Organization) turut menjadikan
siwak sebagai salah satu komoditas kesehatan yang perlu dipelihara dan
dibudidayakan.


(Oleh Muhammad Rachdie Pratama).

Kamis, 2008 Maret 20

KARENA TAMAN ITU DISIRAMI

Karya: Abu Ammar al-Ghoyami

Indahnya pergaulan pasutri(Pasangan Suami Istri) dalam membina rumah tangganya sarat dengan keharmonisan. Keharmonisan merupakan sebutan yang sering dan selalu didamba keberadaannya oleh setiap pasutri. Hal ini wajar, mengingat begitu pentingnya peranannya dalam kehidupan setiap pasutri. Bisa jadi dan sangat mungkin sebab keharmonisan itu merupakan pokok keberhasilan dalam usaha mereka berdua mendayung sampan mengarungi samudera kehidupan rumah tangganya.

Termasuk unsur pokok keharmonisan setiap pasutri adalah akhlaq yang terpuji dari tiap-tiap individu. Dan termasuk pokok akhlaq terpuji adalah berbuat adil dan tidak menzholimi. Seorang suami harus mempergauli isterinya dengan penuh keadilan dan tidak ada kezholiman. Begitu pula seorang isteri harus mengimbangi keadilan suami dengan keadilan serupa. Bersihnya suami dari kezholiman ialah dengan menahan dari melakukan kezholiman kepada isterinya. Bukankah itu adalah keharmonisan?


Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberikan kedudukan yang berbeda antara suami dan istri dalam rumah tangganya, hal ini menuntut keadilan dan dibuangnya jauh-jauh kezholinman dari setiap pasutri terhadap pasangannya. Sebab dibalik perbedaan itulah Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menganugerahkan keharmonisan bagi siapa saja yang dikehendaki-Nya. Simaklah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala berikut:

Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (kaum wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka…. (QS. an-Nisa’ [4]: 34)

Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan para suami sebagai orang yang memiliki kuasa dalam membina para isterinya, mendidik mereka, serta memerintah mereka untuk melaksanakan seluruh kewajiban yang harus mereka tunaikan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan kepada suaminya, serta memberikan pelajaran kepada mereka bila mereka tidak menunaikannya. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menghendaki sebaliknya.

Mengapa ditetapkan demikian? Padahal yang demikian ini benar-benar sebuah perbedaan? Memang benar, itu adalah perbedaan, sedangkan keharmonisan tidak selamanya harus sepadan, harus sama, dan harus selaras. Dalam perbedaan pun Allah Subhanahu wa Ta’ala menghendaki keharmonisan, bahkan merupakan keharmonisan yang sesungguhnya.


Mengapa hanya suami? Sebab Subhanahu wa Ta’ala telah melebihkan para suami atas para isteri dengan mahar-mahar yang mereka bayarkan, dengan harta yang mereka nafkahkan untuk isteri mereka, dan dengan kecukupan yang mereka berikan kepada para isteri mereka. Benar-benar sebuah keharmonisan! Para isteri itu di sisi suami laksana bunga-bunga di taman yang selalu disirami.

Bukankah tidak harmonis bila yang selalu disirami tidak ’mengerti’ tuannya? Seperti juga bukan keharmonisan bila si tuan tidak menyirami tamannya? Karena taman itu disirami, maka selayaknya mawar-mawar itu memahami perbedaan ini. Hanya karena taman itu disirami maka bunga-bunga keharmonisan pun harum semerbak mewangi.


Ditulis ulang dari Majalah al-Mawaddah, Edisi 2 Tahun ke-1 1428/2007

Sufyan Bin ‘Uyainah Rahimahullah(Kunikahi dia karena Agamanya)

Orang alim ini dilahirkan pada tahun 107 H pada pertengahan bulan Syawwal, dan ajal menjemputnya pada hari Sabtu, 1 Rajab 198 H. Nasab lengkapnya, Sufyan bin ‘Uyainah bin Abi ‘Imran al Kufi. Dia dikenal dengan panggilan Abu Muhammad.

Ayahnya seorang pegawai pada masa Khalid bin Abdillah Al Qasri. Tatkala Khalid diberhentikan dari jabatan Gubernur Iraq dan digantikan oleh Yusuf bin Umar ats Tsaqafi, pejabat baru ini mencari-cari para staff pada masa pemerintahan Khalid, sehingga mereka berlarian untuk menyembunguikan diri. ‘Uyainah, Ayah Sufyan kecil, melarikan diri sampai ke kota Mekkah dan akhirnya memutuskan berdomisili disana.

Ketika ia menapak usia lima belas tahun, ayahku memanggil, seraya berpesan : “Wahai Sufyan! Masa kanak-kanak sudah lepas darimu, maka kejarlah kebaikan, supaya engkau termasuk orang-orang yang mengejarnya. Jangan tertipu dengan pujian orang-orang yang menyanjungmu dengan pujian yang Allah mengetahui, bahwa keadaanmu berlawanan dengan itu. Sebab, tidak ada orang yang berkata baik kepada orang lain tatkala ia sedang senang, kecuali ia akan berkata kejelekan kepadanya serupa ketika ia sedang dilanda amarah. Nikmati kesendirian daripada bergaul dengan kawan-kawan yang buruk. Jangan engkau alihkan prsangka baikku kepadamu kepada prasangka lain. Dan tidak akan ada orang yang berbahagia bersama dengan ulama, kecuali orang-orang yang mentaati mereka”.

Mendengar nasihat ayahnya ini Sufyan berkata dalam hati : ”Sejak itu, aku menjadikan pesan Ayah sebagai arah kompasku, berjalan bersamanya, tidak menyimpang darinya”.

Begitulah yang ia jalani. Sejak usia dini, ulama besar ini telah menyibukkan diri pada pendalaman ilmu din. Tepatnya pada tahun 119 H.

Ibnu ’Uyainah mengisahkan tentang dirinya : ”Aku keluar menuju masjid, dan aku melihat-lihat halaqah-halaqah (majlis ilmu) yang ada. Bila aku lihat ada kumpulan ulama dan orang-orang tua, maka aku menghampirinya”.


Dia menceritakan: Aku duduk di majlis ilmu Ibnu Syihab dalam usia enam belas tahun tiga bulan”.

Salah satu yang menunjukkan keberuntungannya, sebanyak delapan puluh ulama besar dari kalangan tabi’in sempat ia jumpai. Misalnya, ’Amr bin Dinas, az Zuhri, Muhammad bin al Munkadir, al A’masy, Sulaiman at Taimi, Humaid ath Thawil.

Tentang kekuatan hafalannya, ia berkata, ”Aku tidak pernah menulis sesuatu, kecuali sudah aku hafal sebelum aku menuliskannya.”

Tak pelak, berkat pergaulannya dengan ulama-ulama besar, telah membentuk dirinya menjadi pribadi yang teguh, luas ilmunya dan mendalam. Ia menjadi nara sumber dalam berbagai permasalahan dan tempat curahan isi hati.


Yahya bin Yahya an Naisaburi menceritakan: ”Suatu hari, ada seorang lelaki mendatangi Sufyan dengan berkata : ’Wahai , Aba Muhammad (yang dimaksud adalah Sufyan). Aku ingin mengadukan kepadamu tentang keadaan istriku. Aku menjadi lelaki yang paling hina dan rendah dimatanya”.

Maka Sufyan menggeleng-gelengkan kepala heran, dan kemudian berujar : ”Mungkin, keadaan itu muncul karena engkau menikahainya untuk meraih kehormatan?”

Lelaki itu pun mengakuinya: ”Ya, betul wahai Aba Muhammad”.

Sufyan lalu berpesan: ”Barang siapa pergi karena mencari kehormatan, niscaya akan diuji dengan kehinaan. Barangsiapa mengerjakan sesuatu lantaran dorongan harta, niscaya akan diuji dengan kefakiran. Barang siapa bergerak karena dorongan din, niscaya Allah akan menghimpun kehormatan dan harta bersama dinnya”.


Berikutnya, Sufyan mulai berkisah :

”Kami adalah empat bersaudara, Muhammad, Imran, Ibrahim, dan aku sendiri. Muhammad adalah kakak sulung., Imran anak bungsu. Sedangkan aku berada di tengah-tengah. Tatkala Muhammad ingin menikah, ia menginginkan kemuliaan nasab. Maka ia menikahi wanita yang lebih tinggi status sosialnya. Kemudian Allah mengujinya dengan kehinaan.


Sedangkan Imran, (saat menikah) ingin mendapatkan harta. Maka ia menikahi wanita yang lebih kaya dari dirinya. Allah kemudian mengujinya dengan kemiskinan. Keluarga wanita mengambil seluruh yang dimilikinya, tidak menyisakan sedikitpun.
Aku pun merenungkan nasib keduanya. Sampai akhirnya Ma’mar bin Rasyid datang menghampiriku. Aku pun berdiskusi dengannya. Aku ceritakan kepadanya peristiwa yang menimpa para saudaraku. Ia mengingatkanku dengan hadits Yahya bin Ja’daj dan hadits ’Aisyah.


Hadits Yahya bin Ja’dah yang dimaksud, yaitu sabda Nabi Shollallahu ’alayhi wa sallam:

”Wanita dinikahi karena empat perkara: karena hartanya, status sosialnya, kecantikannya dan dinnya(agamanya). Carilah waniya yang beragama, niscaya tanganmu akan beruntung”.

Sedangkan hadits ’Aisyah, Nabi Shollallahu ’alayhi wa Sallam bersabda :

Wanita yang paling besar berkahnya adalah waniya yang paling ringan beban pembiayaannya”

Maka, aku memutuskan untuk memilih bagi diriku (wanita yang) memiliki din dan beban yang ringan untuk mengikuti Sunnah Rasulullah Shollallahu ’alayhi wa sallam. Allah menghimpunkan bagiku kehormatan dan limpahan harta dengan sebab agamanya”.

Itulah salah satu hikmah yang muncul dari lisannya. Tidak sedikit untaian hikmah dari Sufyan yang mencerminkan kedekatannya dengan Al Khaliq, Allah Subhaanahu wa Ta’Ala.


Sufyan bin ’Uyainah pernah ditanya tentang hakikat wara’, Dia pun menjelaskan, wara’ adalah keinginan untuk mendalami ilmu din yang menjadi sarana untuk mengenal seluk-beluk wara’. Sebagian orang menganggap sikap wara’ tercermin pada sikap diam dalam waktu yang lama dan sedikit bicara, padahal tidak demikian. Menurut kami, sesungguhnya orang yang berbicara lagi alim, itu lebih afdhal dan lebih wara’ dibandingkan lelaki yang jahil lagi diam.


Sufyan bin ’Uyainah juga memiliki hikmah yang menunjukkan kedalaman ilmunya. Dia menyatakan, permisalan ilmu adalah bagaikan negeri kufur atas negeri Islam. Apabila penganut Islam meninggalkan jihad, niscaya orang-orang kafir akan datang dan mengambil Islam. Jika orang-orang meninggalkan ilmu, maka mereka menjadi manusia-manusia bodoh.

Tentang pentingnya menyampaikan ilmu yang sudah diketahui, dia berkata : ”Tidaklah disebut (sebagai) alim orang yang mengetahui kebenaran dan kejelekan. Tetapi, orang alim sejati ialah orang yang mengetahui kebaikan dan mengikutinya, serta mengetahui kejelekan dan menjauhinya”.


Semoga Allah menganugerahinya dengan rahmat yang luas dan menempatkannya di surga-Nya yang tertinggi.
Diketik kembali oleh Ummu ’Umar dari Majalah As-Sunnah Edisi 10/IX/1426H/2005M


Yang mana tulisan dari Majalah As Sunnah tersebut bersumber dari Tahdzibul Kamal fi Asma-i ar Rijal (3/223-228) karya Aal Hafizh Jamaluddin Abul Hajjaj Yusuf al Mizzi, tahqiq Basyyar Awwad Ma’ruf, Muassasah ar Risalah, Cetakan 1 Tahun 1418 H – 1998 M

Ayah, Ibu…Sayangilah aku, Bercandalah denganku..

Wahai saudaraku pendidik, menyayangi dan bersenda gurau dengan anak kecil termasuk bentuk kasih sayang dan kedalaman pemahaman seseorang dalam dien.

Rasulullah Shallallahu’Alaihi wa sallam adalah sosok pemimpin manusia yang sangat bersikap lemah lembut terhadap anak-anak kecil. Seperti kita ketahui beliau pernah menggendong Hasan di atas pundaknya, Beliau pun mengajak tertawa, membuka mulut dan menciumnya, serta memperlihatkan dia sedang bermain, lari ke sana ke mari. Setelah itu Nabi Shallallahu’Alaihi wa sallam pun menangkapnya. Subhannallah…

Wahai saudaraku pendidik, tidakkah kita bercermin dari Rasulullah Shallallahu’Alaihi wa sallam?
Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu meriwayatkan:

“Bahwasanya Rasulullah mencium Al-Hasan bin Ali kala itu Al-Aqra’ bin Habis At-Tamimi duduk di sisinya, Al-Aqra’ berkata: “Saya punya sepuluh orang anak namun tidak satu anakpun pernah saya cium!” Rasulullah menoleh kepadanya lalu berkata:
مَنْ لاَ يَرْحَمْ لاَ يُرْحَمْ
“Barangsiapa yang tidak menyayangi niscaya tidak akan disayang!”


Aisyah Radhiyallahu ‘Anha meriwayatkan:
“Datang seorang arab badui menemui Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, ia berkata: “Apakah kalian mencium anak-anak? Adapun kami tidak mencium anak-anak! Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata kepadanya:
“Sanggupkah kamu bila Allah mencabut rasa kasih sayang dari hatimu!?”

Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam juga bersenda gurau dengan menjulurkan lidah beliau kepada anak-anak. Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, bahwa ”Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam pernah menjulurkan lidahnya di depan Hasan bin Ali, lalu ketika Hasan melihat merah lidah beliau, ia segera mendekat kepada beliau” 3
Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam selalu memberi motivasi kepada para orang tua dalam hal menyayangi anak-anak, hal ini sebagaimana yang dikatakan oleh Anas, ”Bahwa suatu ketika ada seorang perempuan datang ke rumah ’Aisyah Radhiyallahu’Anha lalu ’Aisyah memberikan tiga butir kurma kepadanya. Lalu perempuan itu memberikan masing-masing anak sebutir kurma sehingga ia menyisakan sebutir kurma untuk dirinya. Lalu kedua anak itu masing-masing memakan kurmanya sambil memandang kepada ibunya. Kemudian ibunya mengambil kurma itu dan membelah mejadi dua lalu ia berikan kepada masing-masing anak separuhnya. Kemudian datanglah Nabi Shallallahu’Alaihi wa sallam, lalu beliau diceritakan ‘Aisyah Radhiyallahu’Anha. Setelah itu beliau bersabd
a:
”Sungguh apa yang dilakukan perempuan itu membuat kamu terpesona. Semoga Allah mengasihi dia karena kasih sayang dia kepada kedua anaknya yang masih kecil”4
Subhannallah…
Lalu kenapa ada ibu-ibu yang tega menyiksa anak-anak mereka, padahal Allah akan mengasihinya bila ia menyayangi anaknya?.
Bisa jadi dikarenakan mereka tidak mengetahui keutamaan dalam Islam untuk menyayangi anak kecil. Sungguh mereka telah merugi… Allahua’lam… [Bintu Nashrun]


1. Hadits shahih riwayat Al-Bukhari (X/426), Muslim (2318), Abu Dawud (XIV/129), At-Tirmidzi (1911), Ahmad (II/228, 241, 269, 514), Ibnu Hibban (2236), Al-Baghawi dalam Syarah Sunnah (XIII/34), dari jalur Abu Salamah dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu. At-Tirmidzi berkata: Hasan Shahih!
2 Hadits shahih riwayat Al-Bukhari (X/426), Muslim ((2317), Ibnu Majah (II/390), Ahmad (VI/56-70), Al-Baghawi (XIII/34-35), dari jalur Hisyam bin Urwah dari bapaknya dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha.
3 Al Silsilah As Shahihah, hal.70
4 HR. Bukhari, di dalam kitab Adabul Mufrad, kitabul Walidat Rahimat I : 89

Referensi:
Bekal-bekal Menuju Pelaminan, ,At-Tibyan Solo

Tumbuh di bawah naungan Illahi, Doa dan Kiat Nabi Shalallahu’alahi wa sallaam mendidik anak Sejak dalam Sulbi Ayah dalam Kandungan Ibu hingga Dewasa, syaikh Jamal Abdul Rahman, Penerbit Media Hidayah

sumber : http:\\jilbab.or.id

Minggu, 2008 Maret 16

Fajarnya Ini

Adakah kau renungkan...
Dibalik tetesan hujan...

Adakah kau fikirkan...
Di balik suara jejatuhan...

Ia bertasbih atas keagungan-Nya
Iramanya yang merdu

Tak ada yang dapat meniru

Kita tak tau sebelumnya...
Ada sebuah keindahan...


Ketika ia jatuh...
dari hujung dedaunan...


(M.A.S)

Melihat Aurat Sesama Wanita&Melihat Aurat Sesama Lelaki...Bolehkah..?

Dari Abu Said Al-Khudri Radhiyallahu anhu, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah bersabda.
"Artinya
: Tidak diperbolehkan bagi orang laki-laki melihat aurat laki-laki, dan wanita melihat aurat wanita. Dan tidak boleh seorang laki-laki dengan orang laki-laki lain dalam satu selimut, dan wanita dengan wanita lain dalam satu selimut". (Hadits Riwayat Muslim)

Imam Nawawi Rahimahullahu mengatakan:"Dalam hadits tersebut terdapat larangan bagi orang
laki-laki melihat aurat laki-laki lain, dan wanita melihat aurat wanita lain. Larangan ini sama sekali tidak dapat diganggu gugat".

Selanjutnya Imam Nawawi mengatakan : "Mengenai sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, 'Dan tidak boleh seorang laki-laki bergabung dengan orang laki-laki lain dalam satu selimut, dan wanita bergabung dengan wanita lain dalam satu selimut', merupakan larangan yang sifatnya haram apabila diantara keduanya tidak terdapat pemisah. Dan itu menunjukkan larangan penyentuhan aurat bagian tubuh mana pun, baik laki-laki maupun wanita. Hal itu telah menjadi kesepakatan para ulama. Banyak orang yang meremehkan masalah itu, di mana mereka banyak yang mandi dalam satu kamar mandi. Oleh karena itu, hendaknya setiap orang menjaga pandangan, tangan dan anggota tubuh lainnya dari aurat orang lain, serta memelihara auratnya jangan sampai dilihat dan disentuh oleh orang lain. Dan apabila melihat orang yang mengabaikan hal itu, maka hendaklah mereka menjauhi dan memperingatkannya.

Dalam hal ini penulis tambahkan, larangan ini juga mencakup tidurnya seorang wanita dengan wanita lain dalam satu tempat tidur tanpa busana sehingga mengakibatkan aurat masing-masing dari keduanya tersentuh atau terlihat. Dan hal itu termasuk perbuatan-perbuatan haram dan sekaligus merupakan awal dari tindakan cabul.
Batasan aurat yang harus ditutupi oleh wanita Muslimah bagi wanita Muslimah lainnya adalah dari pusar sampai ke lutut. Sedangkan aurat yang harus ditutup oleh wanita Muslimah dari pandangan wanita
non-Muslimah adalah seperti penutupan yang harus dilakukannya terhadap laki-laki yang bukan muhrimnya.

Tapi banyak wanita Muslimah yang menganggap remeh masalah ini. Sehingga tidak jarang anda melihat salah seorang dari mereka dengan tidak segan-segan membuka auratnya di hadapan temannya baik karena adanya sebab maupun tidak. Tidak jarang mereka saling bantu-membantu mencukur rambut kakinya dan bahkan rambut kemaluannya. Semuanya itu merupakan perbuatan yang jelas-jelas dilarang syari'at.
Disalin dari buku 30 Larangan Bagi Wanita, oleh Amr Bin Abdul Mun'in terbitan Pustaka Azzam - Jakarta.

***
Dan telah jelas bagi kita tentang larangan bagi kaum laki-laki untuk melihat dan menyentuh aurat laki-laki lainnya dan larangan wanita untuk melihat aurat wanita lainnya. Hal itu merupakan hal yang dilarang oleh syari’at. Maka mulai sekarang janganlah kita mengabaikan hal tersebut, karena banyak dari kaum muslimin yang menganggap biasa laki-laki bersama-sama buang air kecil dalam toilet, atau saling memerlihatkan kemaluannya, dan sebagainya. Dan juga itut terjadi di kalangan para wanita sekarang ini.
Sebagai seorang muslim kita buang kebiasaan yang demikian, karena telah jelas nas-nya dari agama bahwa hal tersebut dilarang. Sungguh muslim yang baik itu ialah dia yang memiliki rasa malu, dan sungguh malu itu sebagian dari iman. Jika kita tidak memiliki rasa malu lagi berarti iman kita dipertanyakan…..??


Wallahuta’ala A’lam….